Senin, 08 November 2010

HUBUNGAN DIMENSI VARIABEL PEMBENTUK KUALITAS PELAYANAN PLASA TELKOM CAB. DEPOK

HANITA YULIA RACHMAN

Sebagai suatu unit jasa pelayanan yang mengawasi sektor telekomunikasi di Indonesia, maka kualitas pelayanan merupakan hal yang sangat penting karena dengan memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas. merupakan salah satu usaha strategi pokok yang dapat digunakan setiap perusahaan untuk mencapai keberhasilan tujuan usaha serta membangun citra baik bagi perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan dimensi variabel pembentuk kualitas pelayanan.
Data primer yang berhasil dikumpulkan sebanyak 110 pelanggan plasa Telkom Cab. Depok, dengan metode survei menggunakan kuesioner, uji validitas, uji relabilitas, dan uji korelasi untuk menganalisis data.

Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa hubungan antar dimensi pembentuk variabel kualitas pelayanan yang meliputi dimensi kehandalan (reliability), dimensi tanggapan (responsive), dimensi Jaminan (assurance), dimensi empati (emphaty) dan dimensi berwujud (tangible) sangat lemah. Dapat disimpulkan pula bahwa Kualitas Pelayanan Plasa Telkom Cab. Depok dinilai oleh responden secara umum baik.

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Telkom sebagai sebuah penyedia jasa pelayanan umum yang mengawasi sektor telekomunikasi di Indonesia berkewajiban untuk selalu meningkatkan bentuk pelayanan kepada pelanggan. Peningkatan pelayanan adalah suatu kata yang sangat diinginkan oeh setiap konsumen, apapun bentuk bisnisnya tidak terkecuali pada harapan pelanggan diplasa telkom area pelayanan Margonda-depok.

Plasa telkom merupakan cabang dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Yang merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. Adapun visi dari telkom yaitu berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoComm terkemuka dikawasan Asia Tenggara, Asia dan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik. Serta misi yang dimiliki telkom yaitu memberikan pelayanan dengan jaminan bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas, dengan harga kompetitif.

Dan telkom akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara strategis.Memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas kepada pelanggan merupakan salah satu usaha strategi pokok yang dapat digunakan setiap perusahaan untuk mencapai keberhasilan tujuan usaha.

Bedasarkan latar belakang dan melihat permasalahan diatas, maka penulis tertarik mengambil judul “Hubungan Dimensi Variabel Pembentuk Kualitas Pelayanan Plasa Telkom cab. Depok” sebagai objek penelitian.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana hubungan dimensi variabel pembentuk kualitas pelayanan plasa Telkom.
1.3 Batasan Masalah
Untuk lebih menyederhanakan masalah, dalam penelitian ini masalah dibatasi sebagai berikut:
1. Subjek penelitian ini adalah pelanggan yang sedang berada di plasa telkom
2. Atribut (variabel) yang ditentukan adalah kualitas pelayanan plasa telkom cab. Depok.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan dan batasan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : untuk menganalisis hubungan dimensi variable pembentuk kualitas pelayanan plasa telkom cab. Depok.
1.5 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran penelitian ini mengacu pada variabel pembentukan kualitas pelayanan yang dibagi kedalam lima dimensi menurut Zeithaml dan M. J. Bitner dalam buku Husein Umar (2003 : 152) yaitu : Kehandalan (Realibility), Tanggapan (Responsive), Jaminan (Assurance), Empati (Emphaty), Berwujud (Tangibles).
1.6 Hipotesis Penelitian
Pada penelitian ini penulis memiliki pengembangan hipotesis yang nantinya akan digunakan sebagai acuan menentukan tujuan, yaitu :
H1 : Terdapat hubungan dimensi variabel pembentuk kualitas pelayanan
1.7 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif, antara lain:
a. Bagi peneliti
Penelitian ini merupakan sarana menambah pengetahuan bagi peneliti, khususnya mengenai hubungan dimensi variabel pembentuk kualitas pelayanan.

b. Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berguna bagi ilmu pengetahuan khususnya ilmu manajemen pemasaran yang membahas variabel pembentuk kualitas pelayanan.

TELAAH PUSTAKA

Pelayanan
Pelayanan adalah setiap kegiatan dan manfaat yang dapat diberikan oleh suatu pihak ke pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak perlu berakibat pemilikan sesuatu. Pelayanan adalah setiap tindakan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat tidak berwujud fisik (intangible) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Produksi jasa bisa berhubungan dengan produk fisik maupun tidak Tjiptono (2002:6). Berdasarkan kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak berwujud dan tidak berakibat pada pemilikan sesuatu pada jual beli barang atau jasa sehingga orang tersebut memperoleh sesuatu yang dinginkannya.
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan pelanggan Lovelock dalam Tjiptono (2004: 59). Bitner dalam Sulistyo (1999: 10) dikutip dari Ahmad Mutaqin mengemukakan bahwa kualitas pelayanan yang dirasakan merupakan hasil dari perbandingan kinerja dan yang diterima konsumen dari penyedia jasa.
Dimensi Kualitas Pelayanan Jasa
Dimensi kualitas jasa menurut Zeithaml dan M. J. Bitner dalam buku Husein Umar (2003 : 152), dapat dibagi kedalam lima dimensi kualitas jasa, yaitu :
1. Kehandalan (Realibility), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan janji yang ditawarkan.
2. Tanggapan (Responsive), yaitu respon atau kesigapan karyawan dalam membantu pelanggan, dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap.
3. Jaminan (Assurance), yaitu meliputi kemampuan karyawan atas penetahuan terhadap perusahaan secara tepat, perhatian dan kesopanan dalam memberikan pelayanan serta memberikan jaminan atas informasi yang diberikan secara tepat.
4. Empati (Emphaty), yaitu perhatian secara individual yang diberikan perusahaan kepada pelanggan.
5. Berwujud (Tangibles), yaitu meliputi penampilan fasilitas fisik perusahaan.


METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data
Peneliti memperoleh langsung data primer dari responden atau pelanggan yang berupa jawaban terhadap pertanyaan dalam kuesioner, data primer diperoleh dengan cara survey ke lapangan dan menyebarkan kuesioner kepada pelanggan.
Metode Analisis Data
a. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir dalam suatu daftar pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel. Daftar pertanyaan ini pada umumnya mendukung suatu variabel kelompok tertentu. Uji validitas dilakukan pada setiap butir pertanyaan. Hasil r hitung dibandingkan dengan r tabel dimana df = n-2 (signifikan 5%, n = jumlah sampel). Jika r tabel < r hitung maka dinyatakan valid, akan tetapi jika r tabel > r hitung maka dinyatakan tidak valid.
b. Uji Reliabilitas merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan di susun dalam suatu bentuk kuesioner. Uji reliabilitas dapat dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh butir pertanyaan.
Jika nilai alpha > 0,60 maka reliabel akan tetapi jika nilai alpha < 0,60 maka tidak reliable. c. Uji korelasi digunakan untuk mengukur hubungan satu variabel dengan variabel yang lain bila datanya berbentuk kuantitatif dan memakai skala pengukuran minimal. Keeratan atau kekuatan hubungan dengan ketentuan dibawah ini : • r = 0 atau mendekati 0, maka hubungannya sangat lemah atau bahkan tidak ada hubungan ama sekali. • r = +1 atau mendekati +1, maka hubungan kuat dan searah. • r = -1 atau mendekati -1, maka hubungan kuat dan tidak searah Pengujian dengan menggunakan tingkat signifikan alpha (α) yang digunakan sebesar 5%. untuk menentukan menerima atau menolak Ho, dengan ketentuan sebagai berikut : • Jika Probabilitas > 0.05 maka Ho diterima
• Jika Probabilitas < 0.05 maka Ho Ditolak HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Identitas Responden a. Jenis Kelamin Responden Pria : 48 Responden (44%) Wanita : 62 Responden (56%) b. Usia Responden 2. Uji Validitas dan Reliabilitas 1. Dimensi Kehandalan (Reliability) Dimensi kehandalan (reliability) tersebut reliabel. Karena nilai alpha bernilai 0,6641 lebih besar dari standar variabel yaitu sebesar 0,60. dan semua butir yang terdapat dalam dimensi kehandalan (reliability) tersebut valid. Karena alpha if item deleted bernilai positif (+) dan (>) r tabel (0,15) dengan df = n-2 = 110 – 2 = 108 pada tingkat signifikansi 0,05.
2. Dimensi Tanggapan (Responsif)
Dimensi tanggapan (responsive) tersebut tidak reliabel, karena nilai alpha bernilai 0,4995 lebih kecil dari standar variabel yaitu sebesar 0,60. dan semua butir yang terdapat dalam dimensi tanggapan (responsive) tersebut valid. Karena alpha if item deleted bernilai positif (+) dan (>) dari r tabel (0,150) dengan df = n-2 = 110 -2 = 108 pada tingkat signifikansi 0,05.
3. Dimensi Jaminan (Assurance)
Dimensi jaminan (assurance) tersebut reliabel, karena nilai aplha bernilai 0,7798 lebih besar dari standar variabel yaitu sebesar 0,60 dan semua butir yang terdapat dalam dimensi jaminan (assurance) tersebut valid. Karena alpha if item deleted bernilai positif (+) dan (>) dari r tabel (0,150) dengan df = n-2 = 110 – 2 = 108 pada tingkat signifikansi 0,05
4. Dimensi Empati (Empahty)
Dimensi empati (emphaty) tersebut reliabel, karena nilai alpha bernilai 0,6782 lebih besar dari standar variabel yaitu sebesar 0,60. dan semua butir yang terdapat dalam tersebut dimensi empati (emphaty) valid, karena alpha if item deleted berniali positif (+) dan (>) dari r tabel (0,150) dengan df = n-2 = 110 – 2 = 108, pada tingkat signifikansi 0,05.
5. Dimensi Berwujud (Tangible)
Dimensi berwujud (tangible) tersebut reliabel, karena nilai alpha bernilai 0,6573 lebih besar dari standar variabel yaitu sebesar 0,60, dan semua butir yang terdapat dalam dimensi berwujud (tangible) tersebut valid. karena alpha if item deleted bernilai positif (+) dan (>) dari r tabel (0,150) dengan df = n-2 = 110 – 2 =108, pada tigkat signifikansi 0,05
3. Korelasi
a. Dimensi Kehandalan (Reliability) dengan Dimensi Tanggapan (Responsif)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi kehandalan (reliability) dengan dimensi tanggapan (responsif) sebesar 0,080 dan tingkat signifikanya 0,405. itu berarti terdapat korelasi yang lemah, karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima,yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.
b. Dimensi Kehandalan (Reliability) dengan Dimensi Jaminan (Assurance)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi kehandalan (reliability) dengan dimensi jaminan (assurance) sebesar 0,345 dan tingkat signifikan 0,000. itu berarti terdapat korelasi yang lemah, karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikan yang lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang signifikan meskipun hubungan yang terjadi sangat lemah.
c. Dimensi Tanggapan (Responsif) dengan Dimensi Empati (Empahty)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi tanggapan (responsif) dengan dimensi empati (empahty) sebesar -0,038 dan tingkat signifikan 0,690. itu berarti terdapat korelasi yang lemah, karena nilai korelasinya mendekati 0, dilihat dari tingkat signifikansiyang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.
d. Dimensi Tanggapan (Responsif) dengan Dimensi Berwujud (Tangible)
Didapat nilai koefisien korelasi antara Dimensi Tanggapan (responsif) dengan Dimensi Berwujud (tangible) sebesar -0,040 dan tingkat signifikan 0,677. itu berarti terdapat korelasi yang lemah, karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari signifikansi yang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.
e. Dimensi Jaminan (Assurance) dengan Dimensi Tanggapan (Responsif)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi jaminan (assurance) dengan dimensi tanggapan (responsif) sebesar -0,088 dan tingkat signifikan 0,363. itu berarti terdapat korelasi yang lemah, karena nilai korelasinya mendekati 0, dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.
f. Dimensi Jaminan (Assurance) dengan Dimensi Berwujud (Tangible)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi jaminan (assurance) dengan dimensi berwujud (tangible) sebesar 0,105 dan tingkat signifikan 0,277, itu berarti terdapat korelasi yang lemah karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.

g. Dimensi Empati (Empahty) dengan Dimensi Kehandalan (Reliability)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi empati (empahty) dengan dimensi kehandalan (reliability) sebesar 0,224 dan tingkat signifikan 0,019 itu berarti terdapat korelasi yang lemah karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang signifikan meskipun hubungan yang terjadi sangat lemah
h. Dimensi Empati (Empahty) dengan Dimensi Jaminan (Assurance)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi empati (empahty) dengan dimensi jaminan (assurance) sebesar -0,078 dan tingkat signifikan 0,417 itu berarti terdapat korelasi yang lemah karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.
i. Dimensi Berwujud (Tangible) dengan Dimensi Kehandalan (Reliability)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi berwujud (tangible) dengan dimensi kehandalan (reliability) sebesar 0,192 dan tingkat signifikan 0,045 itu berarti terdapat korelasi yang lemah, karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang signifikan meskipun hubungan yang terjadi sangat lemah.
j. Dimensi Berwujud (Tangible) dengan Dimensi Empati (Empahty)
Didapat nilai koefisien korelasi antara dimensi berwujud (tangible) dengan dimensi empati (empahty) sebesar -0,016 dan tingkat signifikan 0,870 itu berarti terdapat korelasi yang lemah karena nilai korelasinya mendekati 0. dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dan hubungan yang terjadi sangat lemah.

3. Kualitas Pelayanan Plasa Telkom
1 Dimensi Kehandalan (Realibility) jumlah untuk dimensi kehandalan (realibility) adalah 19,82 dibagi 5 butir perntanyaan yang hasilnya 3,96 dinyatakan bahwa kualitas pelayanan plasa Telkom pada dimensi kehandalan adalah baik.
2. Dimensi Tanggapan (Responsive) jumlah untuk dimensi tanggapan (reponsive) adalah 11,61 dibagi 3 butir perntanyaan yang hasilnya 3,87 dinyatakan bahwa kualitas pelayanan plasa Telkom pada dimensi tanggapan adalah baik.
3. Dimensi Jaminan (Assurance) jumlah untuk dimensi jaminan (assurance) adalah 18,72 dibagi 5 butir perntanyaan yang hasilnya 3,74 dinyatakan bahwa kualitas pelayanan plasa Telkom pada dimensi jaminan adalah baik.
4 Dimesi Empati (Emphaty) jumlah untuk dimensi empati (emphaty) adalah 11,58 dibagi 3 butir perntanyaan yang hasilnya 3,86 dinyatakan bahwa kualitas pelayanan plasa Telkom pada dimensi empati adalah baik.
5 Dimensi Berwujud (Tangibles) jumlah untuk dimensi berwujud (tangible) adalah 15,29 dibagi 4 butir perntanyaan yang hasilnya 3,82 dinyatakan bahwa kualitas pelayanan plasa Telkom pada dimensi berwujud adalah baik









KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
1. Kesimpulan
Berdasar pada kesimpulan dijelaskan bahwa hubungan dimensi variabel pembentuk kualitas pelayanan adalah lemah. Kualitas Playanan Plasa Telkom Cab. Depok adalah baik.

2. Implikasi Penelitian
Hasil penelitian ini ternyata kurang mendukung teori kualitas pelayanan (Service Quality) karena hubungan dimensi variabel pembentuk kualitas pelayanan plasa telkom terdapat hubungan yang lemah dilihat dari kelima dimensi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Eva Zhoriva, Yusuf. Lesley, Williams. 2007. Manajemen Pemasaran : Studi Kasus Indonesia. Penerbit PPM. Jakarta.
Tjiptono, Fandy. 2002. Strategi Pemasaran. Edisi II, Andi: Yogyakarta.
Husaini, Usman. Purnomo Setiady, Akbar. 2001. Pengantar Statistika. Bumi Aksara: Jakarta.
Umar Husein, 2005. Studi Kelayakan Bisnis, PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Supranto, J. 2006. Pengukuran Tingkat Pelanggan Untuk Menaikan Pangsa Pasar. Rineka Cipta: Jakarta.
Mutaqin, Ahmad. 2006. Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Fasilitas Terhadap Kepuasan Pelanggan Bus Po. Timbul Jaya di Wonogiri, diakses dari http://diglib.unnes.ac.id/gsdt/collect/skripsi.1/import/2936.pdf
Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran, Edisi Millenium Jilid 2. Prenhallindo: Jakarta.
Sarwoko. 2007. Statistik, inferensi: Untuk Ekonomi dan Bisnis. C.V Andi Offset: Yogyakarta.
Transtrianingzah, Fia. 2006. “Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Tingkat Kepuasan Nasabah pada Bank Muamalat cab. Solo”, di akses dari http://Idb4.wikispaces.com/file/view/sm4007ANALISIS+PENGARUH+KUALITAS+PELAYANAN.pdf
http://ejournal.gunadarma.ac.id
http://sinergi-indonesia.com

Senin, 18 Oktober 2010

Perilaku Konsumen

ARTIKEL PERILAKU KONSUMEN

NAMA : Yanian Ruri Dwiastie
KELAS : 3EA11
NPM : 11208301
TUGAS : PERILAKU KONSUMEN

UNIVERSITAS GUNADARMA
2010

PENDAHULUAN

PERILAKU KONSUMEN DAN TINDAKAN PEMASARAN

CONSUMER BEHAVIOR AND MARKETING ACTION Premise dalam buku ini menyatakan bahwa strategi pemasaran harus berlandaskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku konsumen.

MODEL PRILAKU KONSUMEN TIGA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PILIHAN KONSUMEN
1).Konsumen Individu Pilihan merek dipengaruhi oleh ;

Kebutuhan konsumen, Persepsi atas karakteristik merek, dan Sikap kearah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.



2).Pengaruh Lingkungan Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh

Budaya (Norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan. Kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen), Grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi)

3. Faktor menentukan yang situasional ( situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).

Marketing strategy Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah : Barang, Harga, Periklanan dan Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan.


Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen pemasaran memberikan informasi kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek.

Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen. Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek. Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli merek yang sama lagi. Panah umpan balik mengarah kembali kepada organisasi pemasaran. Pemasar akan mengiikuti rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar dan data penjualan. Tetapi informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar tentang mengapa konsumen membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan dari merek pemasar secara relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian pemasaran diperlukan pada tahap ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap merek dan kecenderungan pembelian dimasa yang akan datang. Informasi ini mengarahkan pada manajemen untuk merumuskan kembali strategi pemasaran kearah pemenuhan kebutuhan konsumen yang lebih baik.


PEMBAHASAN
Perilaku Konsumen adalah perilaku yang konsumen tunjukkan dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka.

Definisi lainnya adalah bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.

Analisis tentang berbagai faktor yang berdampak pada perilaku konsumen menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. Ya, pemasar wajib memahami konsumen, seperti apa yang dibutuhkan, apa seleranya, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan.

Alasan mempelajari perilaku konsumen antara lain :

1. Analisis ini akan membantu para manajer untuk :

a. Mendesain bauran pemasaran

b. Mensegmen pasar bisnis

c. Memposisikan dan mendiferensiasikan produk

d. Melaksanakan analisis lingkungan

e. Mengembangkan studi riset pasar



2. Perilaku konsumen harus memainkan peranan yang penting dalam pengembangan kebijakan publik



3. Studi terhadap hal ini akan memungkinkan seseorang menjadi konsumen yang lebih efektif



4. Analisis konsumen memberikan pengetahuan menyeluruh tentang perilaku manusia



5. Studi perilaku konsumen juga memberikan tiga jenis informasi :

a. Orientasi Konsumen

b. Fakta-fakta tentang perilaku manusia

c. Teori-teori yang menjadi pedoman proses pemikiran



Terkait dengan perilaku konsumen, maka terkait pula dengan prinsip 5W+1H :

• Why : Mengapa mendapatkan barang/jasa tersebut ?

• What : Berupa apa barang/jasa tersebut ?

• Who : Siapa yang mendapatkan barang/jasa itu ?

• When : Kapan bisa didapatkan barang/jasa tersebut ?

• Where : Dimana barang/jasa tersebut bisa didapatkan ?

• How : Bagaimana barang/jasa tersebut didapatkan ?

Berikut contoh perumpamaannya : Roy, mahasiswa universitas swasta terkenal di Jakarta (Who) ingin membeli (How) Nokia E90 (What). Ia ingin membelinya karena HP teman-teman Roy canggih semua (Why).

Ia berencana membelinya akhir minggu ini setelah mendapatkan uang saku dari orang tua (When) di pusat perdagangan HP di dekat kampusnya (Where). Nah, mempelajari 5W+1 H ini merupakan inti dari Perilaku Konsumen.

Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhinya, yaitu :

• Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.

• Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.

• Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tipologi pengambilan keputusan konsumen : 1. Keluasan pengambilan keputusan ( the extent of decision making) Menggambarkan proses yang berkesinambungan dari pengambilan keputusan menuju kebiasan. Keputusan dibuat berdasrkan proses kognitip dari penyelidikan informasi dan evaluasi pilihan merek. Disisi lain, sangat sedikit atau tidak ada keputusan yang mungkin terjadi bila konsumen dipuaskan dengan merek khusus dan pembelian secara menetap. 2. Dimensi atau proses yang tidak terputus dari keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi ke yang rendah. Keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi adalah penting bagi konsumen. Pembelian berhubungan secara erat dengan kepentingan dan image konsumen itu sendiri. Beberapa resiko yang dihadapi konsumen adalah resiko keuangan , sosial, psikologi. Dalam beberapa kasus, untuk mempertimbangkan pilihan produk secara hati-hati diperlukan waktu dan energi khusus dari konsumen. Keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah dimana tidak begitu penting bagi konsumen, resiko finansial, sosial, dan psikologi tidak begitu besar. Dalam hal ini mungkin tidak bernilai waktu bagi konsumen, usaha untuk pencarian informasi tentang merek dan untuk mempertimbangkan pilihan yang luas. Dengan demikian, keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah umumnya memerlukan proses keputusan yang terbatas “ a limited process of decision making”. Pengambilan keputusan vs kebiasaan dan keterlibatan kepentingan yang rendah vs keterlibatan kepentingan yang tinggi menghasilkan empat tipe proses pembelian konsu men. EMPAT TIPE PROSES PEMBELIAN KONSUMEN : 1. Proses “ Complex Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk men gevaluasi dan mempertimbangkan piihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran. 0. Proses “ Brand Loyalty “. Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.



Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia. 2. Proses “ Limited Decision Making “. Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun mereka tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut. Konsumen membeli barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Kepitusan itu tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan apabila resikonya minimal. Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepentingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi. 3. Proses “ Inertia “. Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarian informasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertyas tisu.

Keempat proses tersebut digambarkan sebagai berikut :

Pengambilan keputusan konsumen menghubungkan konsep perilaku dan strategi pemasa ran melalui penjabaran hakekat pengambilan keputusan konsumen. Kriteria apa yang digunakan oleh konsumen dalam memilih merek akan memberikan petunjuk dalam manajemen pengembangan strategi. Pengambilan keputusan konsumen adalah bukan proses yang seragam. Ada perbedaan antara pengambilan keputusan dan keputusan dengan keterlibatan kepentingan yang tinggi dan keputusan dengan keterlibatan kepentingan yang rendah.



I. PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG KOMPLEK ( COMPLEKS DECISION MAKING) Untuk memahami keputusan yang komplek maka perlu dipahami hakekat keterlibatan konsumen dengan suatu produk. Kondisi keterlibatan konsumen akan suatu produk, apabila produk tersebut adalah :

1. Penting bagi konsumen karena image konsumen sendiri, misalnya pembelian mobil sebagai simbol status.

2. Memberikan daya tarik yang terus menerus kepada konsumen, misal dalam dunia mode ketertarikan konsumen model pakaian.

3. Mengandung resiko tertentu, misal resiko keuangan untuk membeli rumah, resiko teknologi untuk pembelian komputer.

4. Mempunyai ketertarikan emosional, misal pencinta musik membeli Sistem stereo yang baru.

5. Dikenal dalam kelompok grupnya atau “ badge “ value dari barang yang bersangkutan, seperti jaket kulit, mobil marsedes atau scarf dari Gucci. Gambar 2.1 Model keterlibatan konsumen :

Tipe Keterlibatan :
1. Situational involvement. Terjadi hanya dalam situasi khusus dan sementara dan umumnya bila pembelian itu dibutuhkan. Misalnya keputusan mengambil pendidikan MBA adalah karena kabutuhan untuk pekerjaan.

2. Enduring involvement, terus menerus dan lebih permanen umumnya terjadi karena ketertarikan yang berlangsung terus dalam kategori produk, walaupun pembelian itu dibutuhkan atau tidak, misalnya ketertarikan pada baju. Baik enduring maupun situational involvement merupakan hasil proses pengambilan keputusan yang kompleks. “Badge” value adalah suatu kondisi dimana mencakup keterlibatan situasional dan keterlibatan yang menetap.

Selasa, 28 September 2010

tugas metode riset

PENGARUH KOMPENSASI DAN KARAKTERISTIK PEKERJAAN
TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN
PT. TOYOTA ASTRA MOTOR
YANIAN RURI DWIASTIE / 11208301 / 3EA11


I. LATAR BELAKANG MASALAH
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang ada dalam suatu perusahaan organisasi disamping sumber daya yang lain , misalnya modal, material, mesin dalam perusahan ,sehingga menjadi bermanfaat dan tanpa adanya sumber daya manusia dan teknologi. Hal ini karena manusialah yang mengelolah sumber daya lainnya yang ada dalam perusahaan, sehingga menjadi bermanfaat dan tanpa adanya sumber daya manusia maka sumber daya lainnya menjadi sangat penting. Hal yang penting diperhatikan dalam pemeliharaan hubungan tersebut antara lain adalah kepuasan kerja para karyawan.
Berkerja pada suatu perusahan / organisasi dengan memperoleh imbalan juga biasanya didasarkan keyakinan bahwa dengan berkerja pada perusahaan / organisasi itu seseorang akan dapat memuaskan berbagai kebutuhannya, tidak hanya di bidang material, seperti sandang, pangan, papan dan kebutuhan kebendaan lainya, akan tetapi juga berbagai kebutuhan lainnya
yang bersifat sosial,prestise, kebutuhan psikologis dan intelektual (siagian, 2000). Kepuasan kerja dirasa penting dan perlu diperhatikan oleh setiap organisasi, karena Manusia Merupakan faktor dan pemeran utama dalam proses kerja ,terlepas dari apakah perkerjaan itu sarat teknologi atau tidak, namun pada akhirnya manusialah yang akan menjadikan perkerjaan itu efektif atau tidak (Allen dalam As’ad, 1998).
Rendahnya kepuasan kerja dari karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan merupakan gejala dari kuarang stabilnya organisasi atau perusahan tersebut bentuk yang paling ekstrim dari ketidak puasan tersebut adalah pemogokan kerja, mangkir, dan tingkat keluarnya karyawan dari perusahaan tinggi.
Dalam hal kesejahteraan karyawan, PT. TOYOTA ASTRA MOTOR telah melakukan berbagai upaya untuk menigkatkan kemakmuran karyawannya misalanya dengan memperhatikan kompetensi yang dimiliki karyawan, dan dengan menjalankan system rotasi dan mutasi yang baik antar bagian,dinas, departemen,maupun direktorat. Namun demikin, dalam kenyatannya masih timbul ketidakpuasan yang tercermin dari adanya demostrasi karyawan dengan salah satu tuntutannya adalah perbaikan sistem pengajaran berdasarkan pemikiran inilah, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh konpensasi dan karateristik perkerjaan terhadap kepuasan kerja karyawan PT. TOYOTA ASTRA MOTOR

II. PERUMUSAN MASALAH
Adapun Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah variabel-variabel yang ada dalam kompensasi (finansial dan finansial)
serta variabel-variabel yang ada pada karakteristik pekerjaan (otonomi, variasi
perkerjaan, identitas tugas, signifikan tugas, dan umpan balik ) mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan ?
2. Variabel kompensasi dan karakteristik pekerjaan manakah yang merupakan
variable paling dominan dalam menentukan kepuasan kerja karyawan ?

III. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui apakah sistem kompensasi yang diterapkan PT. TOYOTA ASTRA MOTOR secara parsial maupun simultan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan.
2. Untuk mengetahui apakah karateristik pekerjaan diunit produksi PT.TOYOTA ASTRA MOTOR secara parsial maupun simultan mepengaruhi kepuasan kerja karyawan.
3. Untuk mengetahui variabel- variabel mana yang mempunyai pengaruh paling dominant terhadap kepuasan kerja karyawan.

IV. KERANGKA PEMIKIRAN
4.1. Kompensasi
Garry Dessler Mendefinisikan kompensasi sebagai berikut : “ Employee compensastion is all forms of pay rewards going to employee and arising from their employment ”. Maksudnya kompensasi adalah segala bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan oleh perusahaan sebagai atau balas jasa atas kontribusi mereka kepada perusahaan.
Menurut Mondy dan Neo, jenis kompensasi yang diberikan pada karyawan dapat berbentuk kompensasi finansial dan non finansial (Mondy & Neo,1993) Kompensasi financial adalah kompensasi yang diterima karyawan dalam bentuk finansial, seperti gaji, upah, bonus dan tunjangan-tunjangan. Sedangkan kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima karyawan dalam bentuk non- financial, seperti promosi jabatan. Dan penghargan. Agar dalam pelaksanaannya program kompensasi dapat berjalan secara efektif, maka program kompensasi tersebut harus menerapakan azas-azas kompensasi (Hasibuan 2001), yaitu :
1.Azas adil; artinya besarnya kompensasi yang diberikan kepada karyawan harus disesuaikan dengan prestasi kerja, jenis pekerjaan, resiko pekerjaan, tanggung jawab, jabatan pekerjaan dan memenuhi persyaratan internal konsisten.
2.Azas layak dan wahar; artinya kompensasi yang diberikan kepada karyawan harus dapat memenuhi kebutuhannya pada tingkat normatif yang ideal. Selain itu beberapa hal yang perlu dilakukan dalam usaha pengembangan suatu sistem kompensasi, antara lain:
1. Melakukan analisis pekerjaan
2. Melakukan Penilaian terhadap pekerjaan dikaitkan dengan keadilan interna
3. Melakukan survei terhadap berbagai sistem imbalan yang berlaku diorganisasikan lain, guna memperoleh bahan yang berkaitan dengan keadilan eksternal
4. Menentukan harga setiap pekerjaan dihubungkan dengan harga pekerjaan sejenis ditempat lain.
4.2. Karakteristik Pekerjaan
Membahas masalah karakteristik pekerjaan tidak lepas dari membahas perancangan pekerjaan. Pekerjaan yang baik harus lebih baik dari sekedar sekumpulan tugas yang harus dilakukan sebagaimana yang dihasilkan oleh informasi analisis.
Dalam merancang bangun pekerjaan ada tiga hal penting yang harus diperhatikan.
Pertama, dalam merancang bangun pekerjaan harus mencerminkan usaha pemenuhan tuntutan lingkungan, organisasional dan keperilakuan terhadap pekerjaan yang dirancang bangun itu,
Kedua,mempertimbangkan ketiga tuntutan tersebut berarti upaya diarahkan pada pekerjaan yang produktif dan memberikan kepuasan pada prilakunya, meksipun dapat dipastikan bahwa tingkat produktivitas dan kepuasan itu tidak akan sama pada setiap orang.
Ketiga, tingkat produktivitas dan kepuasan para pelaksana pekerjaan harus mampu berperan sebagai umpan balik.
Terdapat 3 unsur dalam karakteristik pekerjaan :
1. Unsur Organisasi
Seluruh unsur organisasi dalam rancang bangun pekerjaan berangkat dari dan bermuara pada efisiensi dan efektivitas kerja. Untuk mencapainya organisasi cenderung kearah pendekatan mekanistik, prosedur dan ergonomik. Pendekatan mekanistik adalah pendekatan yang menekankan pada spesialisasi yang tinggi sebagaimana halnya dengan pendekatan scientific management, yaitu memberikan cakupan pekerjaan yang rendah pada seseorang dengan harapan pelaksana menjadi sangat ahli dalam pelaksanaanya dan dapat menjadi
sangat efektif dan efisien dalam pelaksaannya. Pendekatan berikutnya adalah menentukan prosedur atau arus kerja, yaitu prngaturan dan penentuan standar perilaku dalam pelaksanaan tugas sebagai upaya untuk menigkatkan kepastian dari hasil pekerjaannya. Selanjutnya pendekatan ergonomik, yaitu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman secara fisik dan dapat memudahkan pelaksanaan tugas-tugas yang efisien atau dapat membantu gerakangerakan yang efektif dalam pelaksanaan pekerjaan.
2. Unsur Lingkungan
Pertimbangan unsur lingkungan berkaitan dengan pertimbangan aspek-aspek kemampuan, kesedianan pegawai dan harapan- harapan masyarakat. Kemampauan dari pegawai akan menentukan tingakat spesialisasi pekerjaan yang tepat. Seorang pegawai dengan kemampuan yang rendah lebih efektif dengan spesialisasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai yang mempunyai kemampuan lebih tinggi. Ketersediaan pegawai juga akan menentukan tingkat spesialisasi yang akan diterapakan.

3. Unsur keprilakuan
Rancang bangun pekerjaan tidak boleh semata-mata dikaitkan hanya dengan efisiensi kerja saja, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa orientasi efisiensi, efektivitas dan produktivitas sangat penting dalam sutu organisasi.Unsur keperilakuan berkaitan dengan pemberian beberapa karakteristik dan pekerjaan yang dapat memenuhi keinginan atau motif seseorang dalam pelaksanan suatu pekerjaan, yaitu :
1. Otonomi dalam pelaksanaan pekerjaan.
2. Variasi tugas.
3. Identitas tugas.
4. Signifikansi tugas.
5. Umpan balik.

4.3. Kepuasan Kerja
Berbagai defenisi tentang kepuasan kerja telah dibuat oleh para ahli. Diantaranya adalah Wexley dan Yukl dalam As’ad (1987), yang mendefinisikan kepuasan kerja sebagai berikut:’’Job satisfaction is the way an employee feels about his job’’. Kepuasan kerja perasaan pekerja terhadap pekerjaanya. Siagian menuliskan bahwa “kepuasan kerja merupakan suatu cara pandang seseorang, baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif, tentang pekerjaannya’’ (Siagian,2000). Dari defenisi tersebut,dapat disismpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positif seseorang terhadap pekerjaannya.
Kepuasan kerja merupakan salah satu elemen yang cukup penting dalam organisasi. Hal ini disebabkan kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja seseorang seperti malas, rajin, produktif,apatis,dan lain-lain. sikap puas atau tidak puas karyawan dapat diukur dari sejauh mana perusahan atau organisasi dapat memenuhi kebutuhan karyawan. Bila terjadi keserasian antara kebutuhan karyawan dengan apa yang diberikan perusahan, maka tingkat kepuasan yang dirasakan karyawan akan tinggi, dan sebaiknya. Ketidakpuasan kerja sering tercermin dari prestasi kerja yang akan rendah, tingkat kemangkiran yang tinggi, seringnya terjadi kecelakaan kerja,dan bahkan pemogokan kerja yang pada akhirnya akan sangat merugikan perusahan.






V. PENELITIAN TERDAHULU
Dalam hasil Annual Job satisfaction Survey terhadap para staf perusahan di Amerika Serikat berkaitan dengan permasalan kompensasi mendekati tahun 2000 menunjukkan bahwa level tertinggi dari ketidakpuasan karyawan berkisar seputar gaji, bonus, dan hubungan antara pembayaran karyawan karyawan dan hasil kerjanya (Weldon,1999). Penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto,Alhabsji dan Al-Musadieq terhadap karyawan Hotel Patra Jasa Semarang menunjukan bahwa variabel-variabel dalam kompensasi (kompensasi finansial dan non finansial) dan variabel-variabel dalam karakteristik pekerjaan (otonomi, variasi pekerjaan, identitas tugas, signifikansi tugas, dan umpan balik) secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan Hotel Patra Jasa Semarang. Selain itu variabel-variabel dalam Karakteristik pekerjaan secara simultan mempunyai kontibusi lebih besar dibandingkan variabel-variabel dalam kompensasi, sedangkan secara parsial variabel otonomi merupakan variabel yang dominan dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan (Sugiarto, Alhabsji, dan Al-Musadieq, 2001)

VI. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka terdapat beberapa hal yang dapat disarankan antara lain:
1. Dalam usaha meningkatkan kepuasan kerja karyawan unit produksi PT. Toyota astra motor maka manajemen unit produksi PT. Toyota astra motor harus benar-benar memperhatikan variabel-variabel yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan di unit produksi PT. Toyota astra motor. hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penelitian secara berkala, sehingga dengan demikian perusahaan dapat dengan cepat mengantisipasi dan memperbaiki factor-faktor yang diketahui sebagai penyebab penurunan kepuasan kerja karyawan unit produksi.
2. Variabel otonomi dan umpan balik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan di unit produksi PT. Toyota Astra Motor. Bredasarkan hal tersebut, maka manajemen unit produksi PT. Toyota astra motor perlu lebih memberikan keleluasaan / kebebasan kepada para karyawan dalam hal merencanakan dan mengendalikan sendiri pelaksanaan tugasnya, sepanjang sesuai dengan uraian dan spesifikasi pekerjaan yang dibebankan kepadanya serta tujuan perusahaan tercapai. Selain itu manajemen PT. Toyota Astra Motor, Khususnya para pemimpin, juga perlu lebih memberikan umpan balik terhadap pelaksanaan pekerjaan yang telah selesai dilakukan. Hal ini dapat berupa bimbingan, petunjuk, pengarahan, perhatian, tanggapan dan mungkin juga pujian terhadap pelaksanaan pekerjaan yang telah dilakukan.
3. Walaupun variabel-variabel kompensasi financial, kompensasi non finansial, variasi pekerjaan, identitas tugas dan signifikansi tugas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan di unit produksi PT. Toyota astra motor, Manajemen PT. Toyota astra motor tetap perlu memperhatikan variabel-variabel tersebut guna tercapainya kepuasan kerja karyawan di unit produksi PT.Toyota astra motor.
4. Walaupun penelitian ini telah dilakukan seoptimal mungkin, namun peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih belum dapat dikatakan sempurna. Untuk melengkapi kekurangan dan kelemahan dalam penelitian ini, disarankan untuk dilakukan penelitian sejenis dengan menggunakan alat ukur yang lebih baik, serta dengan mencari variable lain yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan di unit produksi PT. X, seperti kepemimpinan, kondisi kerja, struktur organisasi perusahaan, kemampuan / pendidikan karyawan dan lain-lain.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto (1998). Prosedur Penelitian. Cetakan kesebelas, penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta.
As’ad, Moh. (1998). Psikologi Industri. Edisi kelima, liberty, Yogyakarta.
Davis, K. & Newstrom, J.W. (1996). Perilaku dalam organisasi. Ahli bahasa Agus Dharma, Edisi kedua, jilid -1, Erlangga, Jakarta.
Dessler, G. (2000). Human Resource Management. Eighth Edition, Prentice Hall International Inc., USA.
Gomolski, B.C. (1998). Technies Want More Than Pay. Journal of Computerworld, 11, 49-50.
Hagemen, Gisela, (1993). Motivasi untuk Pembinaan Organisasi. Penerbit PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.
Hariandja, M.T.E. (2002). Manajemen SDM: Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian dan Peningkatan Produktivitas Pegawai. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Jakarta.
Indrawijaya, Adam Ibrahim, (2000). Perilaku Organisasi. Penerbit Sinar Baru, Bandung.
Mangkunegara, A.P. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan Pertama, Rosda, Bandung.
Meilan Sugirato, Taher Alhabsy, Al-Musadieq, (2001). Pengaruh Kompensasi dan Karakteristik pekerjaan terhadap kepuasan kerja. Wacana, Vol. 4 No. 1 Juli 2001, Surabaya
Muhammad Choiri, Bambang Swasto, Al-Musadieq, (2001). Faktor Individu dan Faktor Lingkungan sebagai Pembentuk Perilaku Kerja. Wacana, Vol. 1 Juli 2000, Surabaya.
Mondy, R.W. & Noe, R.M. (1993). Human Resource Management. Sixth Edition, Allyn & Bacon Inc, USA.
Nimran, Umar, (1993). Perilaku Organisasi. Cetakan Pertama, CV. Astramedia, Surabaya
Robbin, Stephen P. (2001). Perilaku Organisasi. Konsep Kontroversi, Aplikasi. Edisi Bahasa Indonesia, Jilid 1, Alih bahasa Hadyana Pujaatmaka Benjamin Molan, PT. Prenhallindo, Jakarta.
Siagian, S.P. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi kesatu, cetakan kedelapan, Bumi Aksara, Jakarta.
Suwardi, M. (2002) Pengaruh Kepemimpinan dan Kompensasi terhadap Kepuasan Kerja Pegawai Dispenda. Tesis MM Unsri.
Thoha, Miftah, (2001). Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Umar, Husein, (1999). Riset Sumber Daya Manusia dalam organisasi. Edisi revisi dan perluasan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Weldon, D (1999). Money Still Talks. Journal of Computerworld, 33, 46.
Wexley, K.N. & Yuki, G.A. (1992). Perilaku Organisasi dan Psikologi Perusahaan. Rineka Cipta, Jakarta.
Winardi, J. (2001). Motivasi dan pemotivasian dan Manajemen. Edisi 1, cetakan 1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Senin, 24 Mei 2010

Berkebun Banyak Manfaatnya

Apakah Anda senang berkebun? Berkebun merupakan hobi yang menyenangkan. Sepulang kerja atau saat akhir pekan, merupakan saat yang menyenangkan untuk merapikan taman di depan rumah atau di belakang rumah Anda. Kegiatan berkebun selain membuat senang juga mendatangkan banyak manfaat.

Kegiatan berkebun bisa menjadi hobi yang menyenangkan, namun kegiatan ini juga mendatangkan banyak manfaat bukan hanya bagi wanita namun juga bagi pria. Berkebun juga bermanfaat bagi usia muda maupun mereka yang sudah lanjut usia. Berkebun juga bermanfaat bagi mereka yang sehat maupun yang menderita penyakit.

Manfaat Berkebun

Apa saja manfaat yang bisa diperoleh dengan berkebun? Berikut ini beberapa manfaat saat berkebun selain sebagai suatu hobi yang menyenangkan.

*
Berdampak positif untuk kesehatan
Berkebun sama seperti sedang melakukan olahraga membakar kalori sehingga baik untuk kesehatan tubuh. Saat berkebun, Anda akan melakukan kegiatan seperti memotong rumput, memangkas tanaman, merapikan pot, menanam bunga dan tanaman, memberi pupuk serta menyiram tanaman. Kegiatan berkebun akan membakar antara 280 kalori hingga 380 kalori per jam. Jumlah kalori yang terbakar ini sama dengan kegiatan seks selama 3 jam atau setara dengan jogging atau berlari selama 30 menit atau berlari dengan jarak 2,5 km. Bahkan kegiatan berkebun mampu membakar kalori lebih banyak daripada bersepeda. Berkebun setara dengan berolahraga di gym yang akan menghabiskan banyak uang. Selain itu, kegiatan ini sangat menunjang kesehatan fisik dan psikis.

Kegiatan berkebun juga bermanfaat untuk kesehatan pria, khususnya dalam urusan seks. Berkebun bisa mengatasi masalah impotensi atau disfungsi ereksi bagi pria. Dengan berkebun untuk pria, akan menurunkan risiko impotensi.
*
Menurunkan tingkat stres
Berkebun juga mampu menurunkan tingkat stres seseorang. Setelah menyelesaikan hari atau minggu yang penuh kesibukan dan penuh stres, akan sangat menyenangkan untuk pulang ke rumah dan mulai berkebun pada akhir hari ataupun pada akhir pekan. Kegiatan berkebun dapat berfungsi sebagai penghilang rasa stres, sakit dan frustasi. Selain itu, saat menunggu tanaman bertunas dan menjadi kuncup bunga, itu akan membantu seseorang melatih kesabaran dan memandang ke depan dengan pikiran positif.

Bagi mereka yang sudah lanjut usia (lansia), kegiatan berkebun juga memiliki banyak manfaat. Merawat tanaman mampu membuat para lansia merasakan bahwa mereka tetap dibutuhkan dan tidak kesepian.

Bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan mental atau memiliki gangguan psikologi, kegiatan berkebun juga memiliki dampak positif. Dengan berkebun, seseorang bisa merasa nyaman dan tenang. Apalagi jika mengerjakan kebun dengan tanaman dan bunga yang indah serta lingkungan yang tenang. Selanjutnya, kegiatan merawat bunga dan berkebun bisa membantu seseorang memperoleh rasa percaya diri.

Namun, bukan hanya orang yang berkebun yang memperoleh manfaat dari lingkungan hijau yang dibuatnya. Orang-orang yang tinggal atau berada di sekitar rumah dengan taman yang indah juga akan memperoleh manfaat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang akan merasa lebih senang dengan lingkungan yang banyak tumbuhan hijau.
*
Menyembuhkan penyakit dan mempercepat proses pemulihan kesehatan
Beberapa pasien rumah sakit didapati akan lebih cepat sembuh jika berada di lingkungan hijau atau berada di ruangan yang memiliki tanaman indoor. Ketika diukur tekanan darah dan detak jantung, penderita penyakit yang sedang dalam masa pengobatan lalu berada di lingkungan hijau akan lebih cepat sembuh. Sehingga jika ada anggota keluarga yang sakit, maka dengan berkebun membuat rumah indah dan mempercepat penyembuhan anggota keluarga tersebut.

Selain itu, dengan berkebun, maka bisa menurunkan tekanan darah seseorang sehingga terhindar dari hipertensi. Kegiatan berkebun juga mampu membantu penderita diabetes. Karena banyaknya kalori yang terbakar, akan berpengaruh langsung terhadap kadar gula dalam tubuh.
*
Memperpanjang umur
Karena kesehatan yang stabil serta pikiran yang semakin tenang, maka hal ini akan mempengaruhi kepada usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang senang berkebun rata-rata memiliki jangka waktu hidup lebih lama dibandingkan mereka yang tidak menyukai berkebun.

Tentu, kegiatan berkebun memang menyenangkan. Anda dapat memiliki taman mungil yang indah di rumah Anda ataupun kebun luas yang penuh dengan pepohonan hijau yang enak dipandang mata. Kegiatan ini selain menyenangkan juga banyak manfaatnya. Cobalah mulai membuat pekarangan rumah Anda menjadi lebih hijau dengan berkebun.
http://m.kumpulan.info/content-178.php

Sutra yang Indah dan Istimewa

Sutra atau sutera merupakan salah satu bahan pakaian terindah di dunia. Sejak jaman dahulu, sutra telah digunakan untuk pakaian yang istimewa. Pakaian kimono di Jepang menggunakan bahan sutra. Pakaian sari di India juga menggunakan bahan dari sutra. Sedangkan orang Korea menggunakan sutra untuk membuat hanbok, pakaian tradisional masyarakat Korea. Bahkan batik juga ada yang menggunakan kain sutra. Apa saja keistimewaan sutra? Lalu bagaimana cara merawat pakaian yang terbuat dari bahan sutra?
Sejarah Sutra

Pada awalnya, sutra merupakan produk ekslusif Kekaisaran Cina atau Tiongkok. Sutra mulai dikenal di Cina sejak sekitar tahun 2700 SM. Hanya bangsa Cina yang mengetahui rahasia pembuatan sutra selama berabad-abad. Siapapun yang membocorkan cara pembuatan sutra akan dibunuh sebagai seorang pengkhianat. Karena monopoli inilah yang membuat harga sutra sangatlah mahal, bahkan sebanding dengan emas pada masa itu.

Lalu pada tahun 550 M, Kaisar Romawi Timur atau Bizantium yang bernama Justinian I mengirim 2 biarawan yang menyamar sebagai mata-mata ke negeri Cina. Mereka berhasil mengambil ulat sutra dari negeri Cina dan mengetahui cara membuat sutra pada tahun 552 M. Sejak saat itu, monopoli sutra bukan lagi milik Kekaisaran Cina.

Sejak saat itu, sutra dikembangkan di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi dan menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, sutra mulai dikenal sejak abad kesepuluh. Kemudian pada tahun 1718, bangsa Belanda membawa teknologi untuk budi daya sutra di Indonesia. Sejak saat itulah, sutra mulai dikembangkan di Indonesia.

Proses Pembuatan Sutra

Sutra dihasilkan dari kepompong ulat sutra. Ulat sutra menghasilkan kepompong yang dapat dipintal menjadi serat sutra. Ada ratusan jenis ulat sutra, namun sutra yang terbaik dihasilkan oleh kepompong dari ulat sutra pohon murbei yang memiliki nama ilmiah Bombyx mori.

Induk sutra dapat menelurkan hingga 500 butir telur ulat sutra seukuran kepala jarum pentul. Setelah sekitar 20 hari, telur tersebut menetas menjadi larva ulat yang sangat kecil. Larva ulat ini akan memakan daun murbei dengan agresif. Sekitar 18 hari kemudian, ukuran badan larva ulat tersebut telah membesar hingga 70 kali ukuran tubuh semula serta empat kali mengganti cangkangnya. Kemudian larva ulat tersebut akan terus membesar hingga beratnya mencapai 10.000 kali berat semula. Pada saat itu ulat sutra akan berwarna kekuningan dan lebih padat. Itulah tanda ulat sutra akan mulai membungkus dirinya dengan kepompong.

Kemudian kepompong direbus agar larva ulat di dalamnya mati. Karena jika dibiarkan, ulat akan matang lalu menggigiti kepompongnya sehingga tidak bisa digunakan lagi. Setelah ulat mati, serat di kepompong dapat diuraikan menjadi serat sutra yang sangat halus.

Satu buah kepompong sutra dapat menghasilkan untaian serat sepanjang 300 meter hingga 900 meter dengan diameter 10 mikrometer (1/1000 milimeter). Di seluruh dunia dalam satu tahun dapat menghasilkan total serat sutra sepanjang 112,7 milyar kilometer atau sekitar 300 kali perjalanan pergi-pulang ke matahari dari bumi!

Kemudian serat sutra yang halus tersebut dipintal. Serat sutra dipintal dengan proses yang menyerupai proses pada saat ulat sutra memintal kepompongnya. Proses itulah yang dibuat menjadi alat pemintalan serat sutra untuk dibuat menjadi kain sutra yang indah. Bahan kain dari sutra inilah yang kemudian dibuat menjadi berbagai produk pakaian maupun produk lainnya. Beberapa batik kelas terbaik di Indonesia juga menggunakan bahan dari sutra.

Keunggulan Sutra

Saat mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra, Anda akan merasakan kenyamanan dan kelembutan dari bahan sutra tersebut. Namun pakaian yang terbuat dari sutra memiliki banyak keunggulan. Keunggulan dan keistimewaan dari sutra antara lain:

* Sutra merupakan bahan yang sangat kuat. Kekuatan sutra sebanding dengan kawat halus yang terbuat dari baja.
* Sutra juga lembut saat menyentuh kulit. Asam amino dalam serat sutra yang membuat sutra terasa lembut dan nyaman. Bahkan sutra dapat menjaga agar terhindar dari berbagai penyakit kulit. Tentu hal ini akan membuat pemakainya merasa nyaman.
* Sutra memiliki kemampuan menyerap yang baik sehingga cocok digunakan di udara yang hangat dan tropis. Karena itu, setiap pemakai bahan sutra akan merasa sejuk dan lebih kering meski udara panas. Yang menyebabkan bahan sutra mampu menyerap kelembaban dan cairan karena asam amino di dalam serat sutra mampu menyerap lalu membuang keringat.
* Bahan sutra memiliki ciri khas yaitu berkilau seperti mutiara. Hal ini disebabkan karena lapisan-lapisan fibroin, yaitu sejenis protein yang dihasilkan ulat sutra, membentuk struktur mikro yang berbentuk prisma. Struktur prisma inilah yang menyebabkan cahaya akan disebar ketika terkena bahan dari sutra sehingga menimbulkan efek kilau yang indah pada sutra.
* Sutra memiliki daya tahan terhadap panas dan tidak mudah terbakar.
* Salah satu kemampuan istimewa sutra adalah mampu melindungi kulit tubuh dari sinar ultraviolet yang dapat merusak kulit.

Cara Merawat Bahan dari Sutra

Tentu setelah membeli pakaian yang terbuat dari sutra, Anda akan menjaganya agar tetap terawat dan indah. Berikut ini beberapa tips agar pakaian atau produk kain yang terbuat dari sutra tetap terawat:

* Jika Anda memiliki batik atau bahan pakaian dari sutra, maka jangan menyemprot parfum atau minyak wangi langsung ke kain tersebut, terutama batik sutra ataupun kain sutra dengan pewarna alami.
* Pada saat mencuci bahan dari sutra, sebaiknya Anda mencuci di pencuci profesional dengan sistem dry cleaning, kecuali Anda dapat melakukan proses pencucian jenis tersebut. Namun Anda juga dapat mencucinya di rumah dengan deterjen yang lembut dan air hangat sekitar 30° C. Jangan diremas dan diperas. Biarkan kering sendiri dengan angin.
* Anda juga dapat menyeterika bahan dari sutra. Hindari menyeterika langsung di permukaan sutra. Gunakan kain atau pakaian untuk melapisi kain sutra Anda, lalu mulailah menyetrika.
* Simpanlah bahan kain atau pakaian dari sutra di tempat yang kering dan tidak lembab. Gunakan hanger atau gantungan pakaian yang terbuat dari bahan lembut, misalnya dilapisi busa.
* Hindari ngengat pada tempat penyimpanan pakaian atau kain dari sutra. Untuk mengusir ngengat, Anda dapat menggunakan akar wangi atau pengharum pakaian.
* Hindari menyimpan pakaian atau kain dari sutra di tempat yang terkena sinar atau cahaya berlebih seperti sinar matahari.
http://m.kumpulan.info/content-150.php

Merawat Gaun Pesta

Gaun pesta yang cantik tentu dapat menjadi kebanggaan Anda. Untuk menjaga tetap rapi dan tidak rusak, bukan hal yang mudah. Hal ini disebabkan bahan yang dipakai untuk membuat gaun pesta adalah bahan-bahan yang sangat halus dan butuh perawatan khusus. Selain itu, karena harganya yang mahal maka akan sayang bila pakaian pesta Anda menjadi rusak.

Karena umumnya gaun atau pakaian pesta Anda jarang digunakan, maka Anda harus memperhatikan teknik penyimpanannya agar pakaian Anda tidak bolong dimakan ngengat atau berjamur. Berikut ini beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Anda saat akan menyimpan pakaian pesta yang telah digunakan:

* Sebaiknya pakaian pesta disimpan dengan digantung, sehingga tetap rapi saat akan dipakai dan dapat dikontrol dengan mudah. Kecuali bila pakaian terbuat dari rajutan atau bahan jersey, karena dengan digantung dapat menyebabkan baju menjadi melar.
* Hanger (gantungan pakaian) yang dipakai sebaiknya yang terbuat dari bahan yang lembut, misalnya hanger yang dilapisi busa. Atau Anda dapat melapisi hanger yang akan pakai dengan busa. Hal ini berfugsi agar hanger tidak meninggalkan bekas pada pakaian.
* Masukkan pakaian yang telah digantung dalam plastik atau kantong penyimpanan yang didapat saat membeli baju agar baju Anda tidak terkena debu.
* Untuk mengusir ngengat, Anda dapat menggunakan akar wangi atau pengharum pakaian.
* Keluarkan pakaian Anda setelah disimpan beberapa lama (misalnya setelah 1 bulan) agar pakaian tidak menjadi bau dan Anda dapat memeriksa pakaian Anda.

http://m.kumpulan.info/content-103.php

Pilih Kebaya Sesuai Bentuk Tubuh

Sebagai salah satu pakaian tradisional Indonesia, kebaya telah dikenal luas dan sering dikenakan pada acara formal atau sebagai busana pesta. Berkat banyaknya peminat pakaian ini, model kebaya juga telah mengalami metamorfosis, sehingga saat ini ada banyak model kebaya yang dapat dipilih. Berbagai model kerah, lengan, panjang kebaya atau teknik pemotongan bisa menjadi pilihan. Mana model kebaya yang terbaik untuk Anda?

Dahulu, penggunaan kebaya hanyalah menjadi pakaian andalan untuk kaum ibu, tetapi saat ini ada berbagai model kebaya modern yang juga cocok untuk remaja dan kaum muda. Sebagai bawahan kebaya, juga tidak selalu harus kain tetapi dapat pula dipadupadankan dengan rok atau celana. Kini, kebaya bukanlah pakaian kuno seperti anggapan beberapa orang.

Model Kebaya

Bila Anda berniat untuk menggunakan kebaya, hendaknya Anda memilih model kebaya yang disesuaikan dengan bentuk tubuh Anda. Jangan hanya karena Anda menyukai model atau karena model sedang trend Anda membeli kebaya tertentu. Karena hal yang lebih penting adalah memilih kebaya yang disesuaikan dengan bentuk tubuh. Dengan pemilihan yang sesuai, kekurangan bentuk tubuh dapat ditutupi sehingga kebaya yang bernuansa etnik akan membuat anggun penampilan Anda.

Berikut beberapa bentuk tubuh dan model kebaya yang sesuai dengan ukuran tubuh Anda:
Bentuk Badan Kerah Lengan Panjang Kebaya Motif Bawahan Mini dan Kurus Model sabrina, off shoulder, model V Model gelembung, kerut Sampai pinggang atau paha Jangan pilih motif terlalu besar Pilih bawahan dengan panjang selutut atau semata kaki, hindari bawahan yang terlalu panjang Mini dan Berisi Model sabrina, off shoulder, model V Model menyempit atau melebar pada bagian bawah Menutupi pinggul Pilih motif simpel, hindari yang terlalu banyak motif detail Pilih model lurus dengan panjang maksimal sampai mata kaki Tinggi dan Kurus Model stand collar, model mandarin atau turtleneck Untuk model lengan, bebas menggunakan model apapun, misalnya model lonceng, kerut, lengan pendek, dan lainnya Tubuh tinggi dapat bebas menentukan panjang bawahan Bisa dengan model kerut atau lipit Gunakan kain dengan sedikit melebar pada bagian bawah atau model lurus Tinggi dan Berisi Model sabrina, model V Model menyempit atau melebar pada bagian bawah Menutupi daerah pinggul Kerut vertikal, hindari kerut pada bagian perut atau lengan Dapat menggunakan bawahan yang menutupi kaki, model duyung atau celana panjang skinny

Warna kebaya juga dapat disesuaikan dengan bentuk tubuh. Untuk Anda yang bertubuh kurus sebaiknya menggunakan warna cerah. Sedangkan bagi yang tubuhnya berisi, untuk membuat tubuh terlihat lebih kecil, Anda dapat memilih warna gelap atau warna-warna lembut untuk kebaya Anda.

Karena kebaya bernuansa etnik, maka Anda dapat menyesuaikan alas kaki yang sesuai. Kebaya cocok digunakan bersama sandal motif kebaya atau sepatu terbuka. Kini, Anda siap untuk datang ke acara dengan kebaya dan tampil cantik.

http://m.kumpulan.info/content-204.php