Rabu, 12 Mei 2010

Tips Rumah Sehat

RUMAH sehat tentunya memberikan rasa nyaman bagi penghuninya. Karenanya, segala seuatu yang menyangkut rumah harus benar-benar diperhatikan. Salah satu ciri rumah yang sehat adalah memiliki sistem sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.

Sistem sirkulasi udara dapat diciptakan dengan menggunakan lubang angin atau ventilasi udara. Ada juga yang menyebutnya bouvenlicht. Agar udara dapat mengalir harus dibuat ventilasi pada dua sisi ruang (dinding). Udara akan bergerak dari lubang di sisi yang satu ke lubang di sisi yang lain.

Posisi kedua dinding idealnya berseberangan, agar semakin banyak udara di dalam ruangan yang bertukar dengan udara baru. Tetapi jika tidak memungkinkan, lubang angin dapat diletakkan pada dinding yang bersebelahan. Minimal satu dinding yang ada lubang anginnya berhubungan langsung dengan ruang luar.

Pencahayaan pada ruangan sebaiknya bersumber pada cahaya alami. Sehingga selain sehat juga dapat menghemat energi. Tidak perlu menyalakan lampu...

Memilih Rumah Minimalis

MEMILIH rumah minimalis ternyata bukan hal mudah. Karena acapkali bentuk dan disain yang ditampilkan hampir mirip. Apakah harus memilih rumah yang atapnya beton atau genteng? Atau pilih yang jendela kacanya besar-besar dan beragam pertanyaan lain.

Sebelum pembangunan rumah Minimalis dilaksanakan sebaiknya rencana anggaran biaya dibuat terlebih dahulu, supaya bisa diketahui dari awal berapa biaya yang akan dikeluarkan.
Dengan dibuatnya rencana anggaran biaya kita juga bisa merencanakan dari awal jenis dan tipe bahan material mana yang akan digunakan pada rumah minimalis tersebut.

Disamping itu dengan ada-nya rencana anggaran kita bisa menyesuaian anggaran biaya sesuai dengan kondisi kantong kita dan kita bisa memilih tipe bahan material yang akan digunakan untuk pembangunan rumah minimalis. Dengan adanya rencana anggaran kita bisa menentukan atau mengetahui dari awal berapa besarnya biaya yang akan dikeluarkan untuk membeli rumah minimalis idaman.

Model minimalis...

Merawat Rumah Mungil

RUMAHKU adalah Istanaku. Ungkapan itu tentu bukan terbentuk begitu saja, sebab jika jauh dari rumah rasa rindu akan kenyaman rumah terkadang sering menyelimuti. Namun jika rumah kita terlalu kecil dan sederhana, apakah masih bisa memberi kenyamanan?

Memiliki rumah mungil bukan berarti Anda tidak merasa nyaman menjadi penghuninya. Kesan lapang dan rapi masih bisa didapatkan jika Anda bisa menyiasatinya. Agar rumah mungil terlihat nyaman, luas dan indah, coba terapkan tips menata rumah mungil berikut ini :

* Manfaatkan setiap ruangan seefesien mungkin. Pemanfaatan ruang-ruang kosong yang ada di dalam rumah untuk meletakan barang-barang, seperti ruangan di bawah tangga yang dapat dimanfaatkan sebagai storage.
* Perhatikan pencahayaan dari lampu. Manfaatkan dua jenis cahaya lampu; kuning dan putih.
Cahaya lampu kuning dapat memberikan kesan lebih hangat, segar, alami dan romantis. Sementara cahaya putih akan memberi efek dingin, formal dan tidak alami.
* Pengaturan jendela juga sangat penting, karena itu sebaiknya saat membangun rumah pastikan jendela dipasangan dengan posisi yang tepat. Hal ini juga berpengaruh pada pemasa-ngan kaca, yang akan memberi manfaat signifikan pada kenyamanan dan kesehatan rumah.
* Pemilihan warna dinding. Sebaiknya pilih cat dengan warna hangat karena warna gelap cenderung membuat ruangan terkesan lebih sempit. Jika ingin memasang wallpaper, pilih yang bermotif garis-garis tipis, ringan dengan warna lembut.
* Jika rumah Anda terdiri dari dua lantai, pilihlah tangga yang terbuat dari bahan ringan, contohnya, logam.

Senin, 10 Mei 2010

Diabetes Mellitus

DEFINISI
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat.

Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi, meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam.
Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.
Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif.

Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, merupakan zat utama yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat.
Insulin menyebabkan gula berpindah ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.
Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan.
Pada saat melakukan aktivitas fisik kadar gula darah juga bisa menurun karena otot menggunakan glukosa untuk energi.


Penyebab diabetes lainnya adalah:

· Kadar kortikosteroid yang tinggi

· Kehamilan (diabetes gestasional)

· Obat-obatan

· Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.

GEJALA
Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi.
Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih.
Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).

Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga.
Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.

Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan.
Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum.
Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis).
Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton.
Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakann atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala semala beberapa tahun.
Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis.
Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.


KOMPLIKASI

Lama-lama peningkatan kadar gula darah bisa merusak pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya.
Terbentuk zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah, sehingga pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.
Sirkulasi yang jelek melalui pembuluh darah besar dan kecil bisa melukai jantung, otak, tungkai, mata, ginjal, saraf dan kulit dan memperlambat penyembuhan luka.

Karena hal tersebut diatas, maka penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang yang serius.
Yang lebih sering terjadi adalah serangan jantung dan stroke.
Kerusakan pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan (retinopati diabetikum.
Kelainan fungsi ginjal menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani dialisa.

Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk.
Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah.
Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami kerusakan (polineuropati diabetikum), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan kelemahan.
Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat meradakan perubahan tekanan maupun suhu.
Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok) dan semua penyembuhan luka berjalan lambat.
Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa komplikasi diabetes dapat dicegah, ditunda atau diperlambat dengan mengontrol kadar gula darah.

DIAGNOSA
Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejala- gejalanya (polidipsi, polifagi, poliuri) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi.

Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan.
Pada usia diatas 65 tahun, paling baik jika pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa karena setelah makan, usia lanjut memiliki peningkatan gula darah yang lebih tinggi.

Pemeriksaan darah lainnya yang bisa dilakukan adalah tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan pada keadaan tertentu, misalnya pada wanita hamil.
Penderita berpuasa dan contoh darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam kemudian contoh darah diambil lagi untuk diperiksa.

PENGOBATAN
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal.
Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang adalah semakin berkurang.

Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet.
Seseorang yang obesitas yang menderita diabetes tipe II tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. Tetapi kebanyakan penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik per-oral.

Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur.
Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan.

Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi. Mereka juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki dan kukunya harus dipotong secara teratur.
Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata.


Terapi sulih insulin

Pada diabetes tipe I, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti.
Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan). Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.

Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.

Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:

  1. Insulin kerja cepat.
    Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar.
    Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam.
    Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.
  2. Insulin kerja sedang.
    Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan.
    Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam.
    Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.
  3. Insulin kerja lama.
    Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan.
    Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.

Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana.

Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:

· Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya

· Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya

· Aktivitas harian penderita

· Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya

· Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.

Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal.
Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.
Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.

Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya.
Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga.

Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti.
Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya.

Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan.
Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam.
Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk).
Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin.
Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.


Obat-obat hipoglikemik per-oral

Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid.
Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya.

Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri.
Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus.

Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan olah raga gagal menurunkan kadar gula darah secara adekuat.
Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian.
Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.


Pemantauan pengobatan

Pemantauan kadar gula darah merupakan bagian yang penting dari pengobatan diabetes.
Adanya glukosa bisa diketahui dari air kemih; tetap pemerisaan air kemih bukan merupakan cara yang baik untuk memantau pengobatan atau menyesuaikan dosis pengobatan.
Saat ini kadar gula darah dapat diukur sendiri dengan mudah oleh penderita di rumah.

Penderita diabetes harus mencatat kadar gula darah mereka dan melaporkannya kepada dokter agar dosis insulin atau obat hipoglikemiknya dapat disesuaikan.


Mengatasi komplikasi

Insulin maupun obat hipoglikemik per-oral bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah sehingga terjadi hipoglikemia.
Hipoglikemia juga bisa terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan pada waktunya atau melakukan olah raga yang terlalu berat tanpa makan.

Jika kadar gula darah terlalu rendah, organ pertama yang terkena pengaruhnya adalah otak.
Untuk melindungi otak, tubuh segera mulai membuat glukosa dari glikogen yang tersimpan di hati. Proses ini melibatkan pelepasan epinefrin (adrenalin), yang cenderung menyebabkan rasa lapar, kecemasan, meningkatnya kesiagaan dan gemetaran. Berkurangnya kadar glukosa darah ke otak bisa menyebabkan sakit kepala.

Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat, menyebabkan koma dan kadang cedera otak menetap.
Jika terdapat tanda hipoglikemia, penderita harus segera makan gula. Karena itu penderita diabetes harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa untuk menghadapi serangan hipoglikemia. Atau penderita segera minum segelas susu, air gula atau jus buah, sepotong kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya.
Penderita diabetes tipe I harus selalu membawa glukagon, yang bisa disuntikkan jika mereka tidak dapat memakan makanan yang mengandung gula.

Gejala-gejala dari kadar gula darah rendah:

· Rasa lapar yang timbul secara tiba-tiba

· Sakit kepala

· Kecemasan yang timbul secara tiba-tiba

· Badan gemetaran

· Berkeringat

· Bingung

· Penurunan kesadaran, koma.

Ketoasidosis diabetikum merupakan suatu keadaan darurat. Tanpa pengobatan yang tepat dan cepat, bisa terjadi koma dan kematian.

Penderita harus dirawat di unit perawatan intensif.
Diberikan sejumlah besar cairan intravena dan elektrolit (natrium, kalium, klorida, fosfat) untuk menggantikan yang hilang melalui air kemih yang berlebihan.

Insulin diberikan melalui intravena sehingga bisa bekerja dengan segera dan dosisnya disesuaikan.
Kadar glukosa, keton dan elektrolit darah diukur setiap beberapa jam, sehingga pengobatan yang diberikan bisa disesuaikan.
Contoh darah arteri diambil untuk mengetahui keasamannya. Pengendalian kadar gula darah dan penggantian elektrolit biasanya bisa mengembalikan keseimbangan asam basa, tetapi kadang perlu diberikan pengobatan tambahan untuk mengoreksi keasaman darah.

Pengobatan untuk koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik sama dengan pengobatan untuk ketoasidosis diabetikum.
Diberikan cairan dan elektrolit pengganti.
Kadar gula darah harus dikembalikan secara bertahap untuk mencegah perpindahan cairan ke dalam otak. Kadar gula darah cenderung lebih mudah dikontrol dan keasaman darahnya tidak terlalu berat.

Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka panjang berkembang secara progresif.
Retinopati diabetik dapat diobati secara langsung dengan pembedahan laser untuk menyumbat kebocoran pembuluh darah mata sehingga bisa mencegah kerusakan retina yang menetap. Terapi laser dini bisa membantu mencegah atau memperlambat hilangnya penglihatan.

10 Kebiasaan Penyebab Diabetes

1. Teh manis

Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.

Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.

Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.

Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur.

Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.

Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.

Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.

Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.

Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.

Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.

Pengganti: Jus dingin tanpa gula.

Sumber : Prevention

Misteri Penyakit Seribu Wajah

JUMLAH penderita lupus di Indonesia terus meningkat.Tahun ini angka penderita lupus mencapai 10.000 orang. Gejala yang berbedabeda membuat lupus masih sulit dideteksi dan belum bisa disembuhkan.

Lupus, penyakit ini masih menyimpan sejumlah misteri.Buktinya hingga kini penyebab penyakit tersebut belum diketahui secara pasti.Obat penyembuh pun belum ditemukan. Parahnya lagi, penyakit ini juga memiliki gejala yang berbeda-beda, sehingga dokter pun sulit mendeteksi. Ujungnya, penderita penyakit ini pun terus meningkat. Data dari Yayasan Lupus Indonesia mencatat,di Indonesia terdapat 10.000 odapus (orang dengan penyakit lupus).

Di luar angka tersebut,masih banyak odapus yang tidak terdeteksi.Artinya, jumlah odapus bisa jadi lebih banyak dari data tersebut. Sementara itu, di dunia terdapat 5 juta orang yang hidup dengan lupus.Di Amerika Serikat terdapat 1,2 juta orang yang terkena lupus. “Lupus adalah suatu penyakit auto imun di mana sistem kekebalan tubuh (antibodi) penderita lupus yang seharusnya melindungi tubuh, malah merusak sistem tubuh sendiri,” kata dokter pemerhati lupus, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, saat menghadiri acara Hari Lupus Sedunia yang digelar di Taman Menteng, Sabtu lalu. Sistem kekebalan tubuh memiliki peran yang sangat penting dalam tubuh, karena berfungsi sebagai perlindungan untuk tubuh manusia dari serangan antigen.


Namun, apabila sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan maka akan mengakibatkan timbulnya penyakit lupus. Dikatakan ahli hematologi onkologi medik dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Prof Zubairi Djoerban SpPD KHOM,lupus dikenal juga sebagai penyakit seribu wajah lantaran tidak ada kasus lupus yang serupa. Setiap odapus memiliki gejala yang berbeda saat terkena lupus.

Zubairi menjelaskan, jika dalam kondisi normal, sistem kekebalan tubuh berperan untuk melindungi tubuh kita dari virus, bakteri dan ancaman dari luar lainnya. Pada kasus lupus, sistem tersebut tidak dapat membedakan ancaman dari luar dan jaringan sel itu sendiri. Akibatnya sistem kekebalan tersebut justru membuat antibodi yang menyerang sel sehat pada tubuh penderita.

“Jika ada seseorang muda terdapat ruam merah pada wajah, sakit atau nyeri pada tubuh,setelah diperiksakan ke dokter tidak sembuh-sembuh, maka perlu dicurigai dia terkena lupus,” papar dokter yang juga menjadi penasihat medik Yayasan Lupus Indonesia ini. Setiap individu penderita lupus mempunyai gejala ataupun faktor timbul yang berbeda.


Penyakit ini bukan penyakit yang menular, namun bisa diturunkan karena faktor genetik. Diperkirakan, penyebab lain timbulnya penyakit lupus ini ialah faktor lingkungan seperti sinar matahari, obat,dan intervensi virus. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita dibandingkan lakilaki. Sampai sekarang penyebab itu masih belum diketahui pasti. Namun, salah satunya karena meningkatnya hormon estrogen yang umumnya ada pada perempuan.

Karena sering menyerupai penyakit lain, penyakit ini sering disebut dengan penyakit 1.000 wajah. Untuk itu dibutuhkan ketelitian dari para dokter dalam mendiagnosis penyakit yang dialami orang dalam lupus ini (odapus). Masih dikatakan Zubairi,organ tubuh yang sering terkena adalah ginjal, jantung, paru, otak, darah, dan kulit. Sedangkan gejala yang sering dijumpai adalah sakit pada sendi, demam, sendi bengkak, lelah berkepanjangan, ruam pada kulit,anemia,dan gangguan ginjal.

Sejumlah gejala lain adalah sakit di dada saat menarik napas dalam, ruam bentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidung, sensitif pada matahari atau sinar, rambut rontok, jari jadi putih atau biru saat dingin, stroke, dan sariawan. ”Lupus juga bisa menyerang bagian saraf,” ujar ahli syaraf dari Departemen Kesehatan, dr Adre Mayza SpS,dalam acara yang sama.


Adre menuturkan, terkadang dokter “tertipu” ketika mendiagnosis pasien, terutama jika sarana dan pengetahuan dokter mengenai lupus kurang memadai. “Jadi, saya tidak bisa bayangkan bagaimana dengan penderita lupus yang di desa,” ujar dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesian Society of Hypertention (InaSH) ini. Masih dikatakan Adre, jika dokter yang memeriksa tidak jeli dan tidak begitu mengetahui tentang penyakit ini maka bisa saja memberikan diagnosis yang kurang tepat. Oleh sebab itu, diperlukan pemahaman untuk mengetahui tanda-tanda penyakit ini, agar jumlah penderita yang belum terdiagnosis bisa berkurang. (inggrid namirazswara)


Seputar indonesia

SUARA MAHASISWA, Memupuk Entrepreneur Muda


PDF Print
Monday, 10 May 2010
satu ciri-ciri dari seorang wirausahawan/ wati (entrepreneur) sejati. Kemampuan inilah yang kita lihat masih belum terlihat jelas pada masyarakat kita.Padahal,kebanyakan dari para entrepreneur Indonesia dimulai dari perbuatan yang tidak disengaja yang pada akhirnya menjadi pekerjaan tetap yang menguntungkan.

Biasanya dimulai dari hobi semata. Sudah banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot para fresh graduated agar menjadi entrepreneur seperti memberikan pengarahan tentang macam-macam bentuk usaha sampai perekrutan sarjana muda. Pemerintah sadar betul bahwa persaingan global telah masuk ke Indonesia tetapi masih kurangnya jumlah entrepreneursaat ini menjadi tugas yang berat bagi pemerintah, tercatat baru 400.000 orang saja yang menjadi wirausahawan/ wati (sekitar 0,18% dari jumlah penduduk).

Padahal, menurut sosiolog David McClelland,agar suatu negara menjadi makmur diperlukan sedikitnya 2% penduduknya yang menjadi pengusaha dan membutuhkan kerja sama yang efektif daribanyak pihak agar semua ituterjadi. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia menargetkan jumlah entrepreneurharus menyentuh angka 2 juta jiwa pada 2010 ini. Mengingat serbuan produk Cina yang jumlahnya sulit dikendalikan sehingga ditakutkan akan menyerobot marketIndonesia.

Keberhasilan entrepreneur di Indonesia sangat sedikit alias banyak yang gagal dari ketimbang yang berhasil dikarenakan mental dan sifat dari seorang entrepreneur masih belum melekat pada pola pikir masyarakat kita. Menurut Gooffrey G. Meredith (1996), seorang entrepreneur harus memiliki watak penuh keyakinan, kemandirian, optimisme, memiliki ketekunan dan ketabahan,memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif yang cepat.

Mungkin masyarakat kita belum berani untuk mengambil risiko untuk memulai suatu usaha.Padahal seperti kata pepatah “Semakin tinggi risiko yang dihadapi semakin tinggi pula keuntungan yang akan diraih”, maka dari itu dibutuhkan sebuah usaha untuk mengubah mindset masyarakat kita.Di sinilah peran para entrepreneur yang telah berhasil untuk memberikan semacam social responsibility dengan memberikan pengarahan yang diharapkan akan memberi rangsangan agar masyarakat berani untuk memulai usaha dan tahu selukbeluk permasalahan dalam berbisnis.

Dari pihak perbankan juga telah mengeluarkan program “Tabunganku” yang memberikan kesempatan bagi rakyat menengah ke bawah agar menaruh uangnya di bank dengan saldo awal cukup Rp20.000 saja.Tujuan dari program ini agar meningkatkan persaingan antarbank dalam memberikan tingkat suku bunga pinjaman yang kompetitif sehingga tren suku bunga pinjaman menjadi turun dan akan banyak kredit yang akan mengucur untuk mendorong kegiatan UKM. dan yang pasti harapannya adalah meningkatkan perekonomian Indonesia.

Di negara kita banyak orang berpikiran untuk dapat menjadi pegawai negeri. Jangan berharap menjadi seorang wirausaha yang terjadi karena ketidaksengajaan tetapi kita harus merencanakannya sejak awal. Kita ambil contoh negara China.Wirausahawan/wati di sana terbentuk karena direncanakan melalui program yang dibuat oleh pemerintahnya (by design).

Bagi yang merasa memiliki contoh watak seperti di atas maka bersiaplah segera untuk membuat rencana usaha Ada karena era UKM sebentar lagi akan meledak dengan ditandai suku bunga pinjaman yang akan turun. Karena apabila terlambat sedikit,bisa saja peluang akan semakin sempit.Tetapi, entrepreneur sejati selalu melihat adanya peluang yang terbuka lebar walaupun sebagian orang tidak melihat peluang itu.


sumber : seputar indonesia